Skip to main content

Puisi Kabut Biru

Puisi Kabut Biru
Puisi kabut biru. Pengertian kabut adalah uap air yg berada dekat permukaan tanah berkondensasi dan menjadi mirip awan. Hal ini umumnya terbentuk karena hawa dingin membentuk uap air berkondensasi serta kadar kelembaban yang tinggi. Menurut kamus bahasa indonesia kabut artinya kelam, suram dan tidak nyata, atau awan lembap yang melayang di dekat permukaan tanah

Didalam ilmu geografi dan geologi pengertian kabut adalah uap air sebagai hasil kondensasi yang masih dekat dengan tanah yang terjadi dikarenakan peristiwa pemanasan atau pendinginan udara, biasanya menyebabkan jarak pandang pada permukaan bumi berkurang. persamaan kata kabut halimun, mega dan lain sebagainya.

Berkaitan dengan kata kabut, di bawah ini beberpa puisi kabut atau puisi bertema kabut, adapun masing masing judul puisinya antara lain.
  • Puisi kabut biru 
  • Puisi biru
  • Puisi kabut kah rindu
  • Puisi masa dalam kabut
Salah satu penggalan bait dari keempat puisi tersebut. "kabut biru menjadi buliran lantang menantang sabda langit, lidah api asmara menjalar dari senja yang memerah nyaris membakar habis rusuk adam pujangga mengutuk pada kosa kata yang hilang jati diri". Selengkapnya dari bait ini, disimak saja puisinya berikut ini.

PUISI KABUT BIRU

Andaikan lembar pagi ini mampu menjawab
maka kan kupeluk bayang senja nanti
meskipun harus menguras telaga mata
namun hingga saat ini di lorong" waktu
di gema tanpa suara
tak kutemui sedikitpun jawaban dari teka-teki itu

Teka-teki tentang mimpi pagi
untuk menyudahi sedihnya
atma nyaliku hilang
hingga harus kuhunus pedang kesetiaan
lantas kugorokkan pada nadiku
yang mengalirkan darah-darah sajak tanpa jejak

Tetes demi tetes menjelma
menjadi buliran puisi lantang menantang sabda langit
lidah api asmara menjalar dari senja yang memerah
nyaris membakar habis rusuk adam
yang telah di tanam di firdaus Nya

Para pujangga pun murka
mengutuk pada kosa kata
yang hilang jati diri
lalu muntahlah larva-larva abjad tanpa rima
hanya balutan air mata fajar dan kabut biru
yang mampu meredam api itu

Meski harus kuusung penantian
pada segerumbulan mendung yang menghitam
takkan kupeduli tentang klaim para pujangga
yang mencatatku dalam antalogi puisi tanpa diksi

Kediri januari 2015


Puisi Biru

Tiba-tiba kutitip rindu pada angin
Agar kelak tertiup patri dalam hembus anganmu
Meski gemuruh tlah jatuhkan linangnya
Apa lagi tersuguh?
Selain gerimis basahi dermaga
Di bawah rerapuh nyiuh
Jelas benar bayang senyummu
Lebam nan biru
O, Bukankah kita pernah berpeluk dalam harum ombak?

Tapi kau bersapa gelombang
Bertipu harumnya dengan tawa
Lebam nan biru
Jelas benar bayangmu!
Kugapai dalam biru gunung
Hijau tergulung
Kuselam dalam biru laut
Bening tak bersaring
Kuraih dalam biru langit
Hampa yang sengit

Ma'rifatul Islamiyah
Lamongan,18 Nov 2014


PUISI KABUT KAH RINDU
Oleh : Adji Purnomo

Rintik hujan menyisakan kalut
Hujaman perih saling menyaut,
setelah sepi ikut menyambut apakah malam tetap berkabut?

Dinginnya suhu menyumpal rasa
Genangan luka lebar menganga,
lalu kapankah tertutup derita senja?
Sebelum esok nestapa tiba, dapatkah luka terbungkus tawa?
Atau dibiarkan saja meradang menanah?

Luka sepi takkan ter0bati perasaan kalut masih selimuti kalau saja ku tak merangkul sunyi
Walau gelap pasti kau temani

Seikat rindu bujuk ku pilu
Semburat pilu paksa ku sendu
Apa yang pilu? Mana yang sendu?

Kabut kah rindu !!!

Tegal
Februari berlari
20:01


Puisi Masa Dalam Kabut

Mata berselubung penuh embun....
Berwajah pucat tanpa cahaya...
Terbungkus kulit ditulang rapuh...
Duduk tersudut mengartikan malam...

Ada tanya segaris bibir...
Mengapa hidup bercoret arang....
Bolehkan air menjadi susu...
Kala daging pemancing nikmat...

Diatas gunung awan menari...
Setinggi pohon rendah berdaun...
Senandung rumput hanyalah penyanyi...
Ditengah liku-liku perjalanan garis tangan...

Bila hitam bisa terlukis...
Banyaklah bunga dililit kaki...
Ribuan jemari menarik mimpi...
Akan berseri insan berduri...

Ah...rupa kelam dibentang waktu...
Bolehkah bosan menghela nafas...
Burung hantu bunyikan gaung...
Penghuni malam aksikan kisah...

Lamunan cerita layunya mata...
Berbaring resah peraduan sunyi...
Menggapai bayangan dilelap hari...
Tidak berharap sadar lagi...

-Angin Malam-
--------

Demikianlah puisi kabut biru Simak/baca juga puisi yang lain di blog ini, semoga tentang kabut dapat menghibur dan bermanfaat. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Tetap di blog puisi dan kata bijak menyimak/membaca puisi yang kami update. Terima kasih sudah berkunjung.